Drama Komunitas LibreOffice di Indonesia

  last edited: Sun, 06 May 2018 05:24:03 -0400  
Sekarang hubungan LI dan BLOI lebih damai. Artikel ini adalah artikel yang saya pos (dan saya batasi dengan kata sandi) beberapa hari sebelum damai.


Saya sebenarnya menahan untuk tidak menceritakan dan mengungkapkan hal ini, tapi apa mau dikata. Setidaknya, semua perlu dijernihkan karena memang bikin hidup iritasi.

Sila namai kasus yang saya tulis ini sebagai "drama komunitas LibreOffice di Indonesia".

Dua komunitas LibreOffice

Ada dua komunitas LibreOffice yang dibentuk di Indonesia. Komunitas pertama adalah LibreOffice Indonesia, salah satu komunitas sepuh yang aktif pertama kali di Facebook. Mayoritas atau bahkan semua dedengkot komunitas ini adalah aktivis FLOSS. Beberapa tahun kemudian, grup terkesan mati karena sepi tak ada diskusi. Admin kemudian melakukan penyegaran grup dengan menambahkan admin baru. Beberapa saat setelah itu mereka menelurkan acara besar LibreOffice Conference Indonesia 2018.

Komunitas kedua kemudian didirikan, dijadikan sebagai grup belajar di Telegram, dan dijuluki sebagai Grup Belajar LibreOffice Indonesia (GBLI) yang kemudian diganti menjadi grup Belajar LibreOffice Indonesia (BLOI). Fakta menyenangkan, salah satu pendiri grup ini adalah dedengkot grup pertama. Berbeda dari grup sebelumnya, BLOI dibentuk layaknya organisasi yang memiliki pengurus resmi, ada ketua, bendahara, dsb.

Saya ada di pihak mana?

Saya berusaha senetral mungkin. Secara pribadi, saya mempunyai ikatan dengan grup pertama dan juga grup kedua. Dilihat dari grupnya, keduanya juga memiliki sisi positif dan negatif. Jadi?

OpenSUSE.Asia Summit 2016 sebagai pembuka

Pada tahun 2016, komunitas openSUSE Indonesia mengadakan openSUSE.Asia Summit 2016. Saya adalah salah satu dari ratusan peserta yang mengikutinya. Saat acara ini, komunitas GBLI (yang kemudian diganti menjadi BLOI) sudah terbentuk dan tengah menulis buku elektronik kolaboratif pertamanya, sedangkan komunitas LibreOffice Indonesia masih di fase "terkesan tidak aktif" tersebut.

Saya berkawan dengan salah satu pendiri GBLI (TH), salah satu aktivis FLOSS (RA), dan pendiri grup Telegram belajar GNU/Linux terbesar di Indonesia (S). Di ajang kumpul pengembang dan pengguna FLOSS, openSUSE khususnya, tersebut, ke sana ke mari saya hampir selalu ada di dalam geng ini. Hingga suatu waktu ada sesi dari pak AH seputar kontribusi ke FLOSS.

Ini adalah kesempatan bagus TH untuk ikut mengiklankan proyek kolaboratif GBLI-nya secara "samar" atau "eksplisit". Saya bersama RA sudah menyampaikan "cara samar" tersebut, tetapi pahit, TH justru naik ke atas panggung saat sesi pertanyaan dibuka dengan cara blak-blakan dan memang terkesan telah membajak sesi. Setelah sesi selesai, saya tidak tahu apakah ada perbincangan antara TH dan pak AH mengenai pembajakan sesi tadi.

Dilihat dari psikologis, cukup maklum. Saat itu dia memang masih muda, jauh lebih muda daripada saya dan dua teman saya lainnya. Rasa hype-nya untuk ikut berkontribusi saat itu mungkin meledak-ledak dan tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan salah dan membuat cringe banyak orang, terutama kami yang selama ini duduk bersebelahan.

LOCI sebagai pelanjut, pemblokiran sebagai ujungnya

Kasus yang dilakukan TH di openSUSE.Asia Summit 2016 tentu menjadi hal buruk jika tidak segera diklarifikasi, diluruskan, dan dibantah dengan cara baik.

Beberapa bulan lalu, setelah komunitas LibreOffice Indonesia (supaya singkat, saya akan menyebutnya dengan LI) menyegarkan diri, mereka mengadakan LibreOffice Conference Indonesia 2018 (LOCI). Pihak LI tentu mempersilakan kepada BLOI (menggantikan GBLI), TH, untuk mengikuti acara ini dengan menjadi pembicara atau setidaknya menjadi peserta mewakili komunitas.

Saya berharap begitu. BLOI mengikuti acara ini, keren bila ikut membantu. Saya ingin hubungan LI dan BLOI baik. Namun, TH tidak bisa mengikuti padahal sempat ingin dibantu oleh pihak LI jika alasan ketidakdapatan mengikuti acara adalah masalah dana. Kalaupun alasan waktu, TH juga tidak menerangkan secara jelas.

Saya menyampaikan hal ini berdasarkan pengamatan grup BLOI. Yep, pembaca mungkin memang menganggap saya tidak aktif di situ, tetapi saat "keributan" berlangsung, saya adalah pembaca senyap yang berusaha melihat situasi dan kondisi diskusi, serta menyimpulkan secara serampangan soal diskusi tersebut. Apakah benar serampangan? Saya dengan senang hati dibantah :) Karena orang-orang perlu dipicu untuk mengatakan yang sebenarnya dengan cepat ;)


Saat "diserang" anggota komunitas LI, TH sering diam dan tidak secara jujur menjelaskan situasi dirinya mengapa tidak dapat mengikuti LOCI. Saya yakin, jika dirinya menyampaikan hal ini secara jujur, semua masalah teratasi. Saat "gontok-gontokan" terjadi, admin BLOI AA lebih sering menjadi pembela TH.

Sangat wajar jika AA terus membela TH. Apalagi sebelum acara LOCI, LI memang agresif "menyerang" BLOI dengan bahasa "serangan" langsung atau sarkasme. Saya sering membaca grup atau sebuah milist kontributor FLOSS, orang-orang di grup tersebut lebih kejam dari apa yang disampaikan oleh LI. Jika saya ditaruh di posisi BLOI, saya pasti juga melakukan pembelaan sekuat mungkin. Namun, untuk membela seseorang kita harus berpikir jernih. Kita harus mempersilakan kepada orang yang dibela untuk mengutarakan pikirannya sendiri. Orang akan terlalu nyaman dibela, hingga ia tidak perlu repot-repot berpikir dan menyampaikan pendapatnya sendiri.

Ketidaktransparanan komunikasi membuat BLOI memilih untuk tidak ikut mempromosikan LOCI. Tentu, saya bisa mendapatkan informasi LOCI dari grup LibreOffice Indonesia tetapi tidak sama sekali di BLOI. Di BLOI, beberapa promosi dilakukan oleh anggota LI yang juga kontributor buku BLOI.

Domino!

Berdasarkan sebuah topik obrolan, ternyata beberapa anggota LI dikeluarkan (secara otomatis diblokir) oleh admin BLOI. Saya tidak tahu pasti siapa yang melakukannya, itu tidak penting, yang penting adalah mengapa mereka melakukannnya. Hal mengejutkan, seorang donatur domain dan server laman BLOI juga ikut dikeluarkan dari grup tersebut.

Apa penyebab masalah ini? Komunikasi antar admin dan pendiri BLOI yang tidak bersih, begitu juga komunikasi antar LI dan BLOI yang tidak terbuka. Misalnya, TH perlu menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi dan mungkin alasan pemicu LI "menyerang" dirinya kepada admin lainnya. Memblokir orang bukanlah hal tepat, itu hanya menjadi echo chamber, sesuatu yang perlu dihindari di era ini. TH perlu menyampaikan sejujur-jujurnya kepada LI mengapa kasus kemarin bisa terjadi, gontok-gontokan yang berujung pemblokiran. Berkarya menulis buku itu perlu, tapi terlalu fokus padanya dan tak mengindahkan rasa kolaborasi dengan pihak lainnya itu malah keliru.

LI juga harus mulai meredam gaya "serangan" dan sarkasme, jangan sampai admin BLOI yang melakukan hal kurang tepat justru malah menyebabkan TH merasa makin "takut" dan terus menghindar karena ketidakenakan TH terhadap LI. TH masih muda, oke meskipun muda sebenarnya bukan alasan, tapi dia memang masih muda. Setahu saya, BLOI juga tempat satu-satunya TH berkontribusi di ranah FLOSS.

Perlu rekonsiliasi. Orang yang merasa menghambat komunikasi harus mulai membuka mata, mundur sejenak, dan kembali membuka diskusi sehat.

Saya bukan menggurui, ini hanyalah saran dari seseorang yang bukan siapa-siapa. Terima kasih telah mendengar .. eh .. membaca.